Asyiknya Bermain di Taman Bulu Pitu, Terminal Purwokerto



santai di kursi yang eksotik


main sebrang jembatan
main sebrang jembatan
plosotan
narsis
enjot-enjot
ciluk ba
Sudah dua kali aku berkunjung ke Terminal Purwokerto. Pertama pada akhir Januari 2015 lalu bersama dengan keluarga besar. Tepatnya, ke lokasi Taman Lalu Lintas Bulu Pitu, Terminal Purwokerto. Tapi, waktu itu, aku benar-benar ngantuk hingga hanya tidur pulas. Aku hanya melihat, anakku dan istriku beserta keponakan-keponakan bekejaran hingga lambat laun mata menutup sendiri untuk beristirahat.

lingkaran tangga
gue bisa muter-muter di sini broo

Selang sebulan kemudian, atau awal Maret 2015, tepatnya 4 Maret 2015 pukul 11.00, Aku dan Aqilla Firsta Raisa Pamuji (nama lengkap Icha) sengaja ke Terminal Bulu Pitu. Hanya berdua. Ibunya Icha juga nggak diajakin. Memang dikabari si. Coz, istriku ini lagi ngajar di SMP Gunung Jati (#maaf ya bu, jalan-jalan cuma berdua tok).
    Seperti biasa, kalau ngajak Icha jalan-jalan, maka syaratnya adalah ke Indomart atau Alfamart. Sebenarnya, aku sendiri suka belanja di warung. Tapi, berhubung ada Icha, akhirnya belanja di toko modern yang kapitalis ini. Cus, saja. Langsung ambil Wafer Tanggo, Aqua, dan Kopiko. Cukup nak, jangan kebanyakan ya.
    Ok, jajan sudah siap. Aku pun siap meluncur. Eits, saat mau berangkat lagi dari toko modern, Icha minta pakai pelindung badan (sebenarnya ini alat pengaman biar nggak jatuh).
    Ngengggg.. Biasa, saat di motor itu, Icha ngajakin ngobrol.  Ini apa, itu apa, kok begitu. Tapi, aku ladenin setiap pertanyaan. Oh ya, aku menyarankan kepada semua orang tua nih. Apapun yang ditanyakan sama anak, jawablah. Bahkan, secerewet apapun itu, harus dijawab! Jangan pernah mengatakan berisik! Apalagi meminta diam!
    Cittt.. kakiku menginjak rem motor di portal masuk. Kali ini, tukang portal dari Dishub ini melontarkan satu saran.
    "Diservice motore mas,"
    "Nggih pak," jawabku sekenanya.
    Oke, aku pun masuk ke area Terminal Bulu Pitu. Kucari pandang menuju ke tempat teduh yang memang menjadi cirilokasi lokasi taman kota Terminal Bulu Pitu ini.
    "Cha, teng mriku mawon nggih (disana saja)," kataku sambil menunjuk tempat duduk kosong yang teduh. Icha masih terlihat kurang semangat. Langkahnya juga santai. Tapi, it's oke. Kali aja asing karena ramai orang waktu itu. Banyak yang duduk-duduk.
    Namun, tak butuh waktu lama. Setelah makan Wafer Tanggo, dia pun mengajak plosotan. Selesai di situ minta ayunan, lalu mainan lagi. Terus, terus dan seterusnya (silakan lihat di foto). Ternyata, Icha bermain hingga jam di layar hape menunjuk ke angka 13.15. Wah sudah siang juga. Mari pulang Cha. Eits, sebelum tulisan ini ditutup, aku sedikit penasaran dengan sarana dan prasarana di Bulu Pitu ini. Namun, karena tempat kerjaku di media, akhirnya kucari arsip tulisan.
Alhamdulillah nemu tulisannya mbak Azizah Nur Alfi yang waktu aku nulis ini sudah tidak lagi bekerja di Radar Banyumas. Satu lagi tulisannya mas Bayu Indra Kusuma (kalau yang ini masih di Radar Banyumas, belum lulus).

yuk narsis
Ya sudah, aku juga sudah lelah ngetik tulisan ini. Maka aku copy paste saja tulisan 4 Desember 2013 ; 
                              Tempat Edukasi dan Bermain, Buang Kesan Seram
    KABUPATEN Banyumas segera memiliki taman lalu lintas. Detail Engineering Design (DED) taman tersebut saat ini sedang dikerjakan. Tahun depan, taman lalu lintas itu dibangun. Kepala Dinhubkominfo Kabupaten Banyumas Drs Santoso Edi Prabowo mengatakan, taman lalu lintas dibangun di lahan  seluas 1000m2 dengan anggaran Rp 700 juta. Lokasinya berada di komplek Terminal Purwokerto, yakni antara pintu gerbang  AKP dan AKDP.
    "Sudah dianggarkan di 2014. Alokasinya ada di  DCKKTR. Nantinya, ini akan menjadi icon untuk Terminal Purwokerto," katanya kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (4/12) pagi.
    Edi menyampaikan, taman lalu lintas yang dibiayai APBD ini adalah yang pertama di Jawa Tengah. Jika pun ada, kata dia, taman lalu lintas dibangun oleh swasta. Seperti di Bandung dan Jakarta. "Taman lalu lintas juga jumlahnya masih sedikit. Ini mungkin yang pertama kali dengan biaya APBD," ujar Edi.
    Dia menjelaskan design taman lalu lintas merupakan perpaduan antara miniatur lalu lintas. Sebab, di dalamnya juga dilengkapi prasarana jalan seperti traffict light, trotoar, program keselamatan, track jalur sepeda, track mobil keliling (kereta kelinci), miniatur terminal bus dan stasiun, hingga taman.
    Ke depan, kata dia, taman ini dapat berfungsi sebagai taman edukasi dan bermain. "Kita akan kerja sama dengan Dinas Pendidikan. Sebab ini bisa digunakan untuk pembelajaran PAUD, TK, SD untuk belajar lalu lintas," jelasnya.
promosi aqua

    Edi optimis melalui taman ini dapat mengubah kesan terminal yang menyeramkan, menjadi lebih bersahabat. Manfaat lain, dengan menciptakan keramaian maka bangunan kios juga akan lebih optimal. Sebab, menurutnya, dengan menciptakan 'gula', maka selanjutnya semut yang akan mendatangi. Dengan demikian akan mengurai kerumunan masyarakat, yang selama ini hanya tersentral di alun-alun.    
    "Selain sebagai Ruang Terbuka Hijau, ini juga sebagai ptimlaisasi lahan terminal yang belum optimal. Karena itu kan tanah Pemda. Jika dibuat bangunan, tentu akan menutupi terminal. Lalu kenapa tidak dibuat taman saja," ujarnya.
    Dia menambahkan saat ini terminal Purwokerto telah memiliki nama baru, yakni terminal Bulupitu Purwokerto. Pemilihan nama ini, kata dia, diambil dari nama grumbul yang 70 persen lahannya digunakan untuk Terminal Purwokerto, yakni grumbul bulu. Sementara kata pitu, lanjutnya, memiliki nama pitulungan (pertolongan).
    "Karena sejak adanya terminal belum pernah ada namanya. Sekarang nama baru ini mulai tahap sosialisasi," jelasnya. (*)

Komentar