Menikmati Keindahan Gua Sarabadak, Pancuran Tujuh Bersama Turis Manchester City


pada perjalanan akhir, wisatawan dapat menikmari keindahan Gua Sarabadak, Pancuran Tujuh, Baturraden.
Sebelum sampai sini, yuk ikuti ceritanya. Orang di foto ini namanya Amin Bellet.
Ikuti Facebooknya : Amin Bellet

  "Hanya sekedar meregangkan kaki,"

Begitulah niat awal perjalanan pada Selasa pagi, 24 Maret 2015. Kok bukan Sabtu? Biasanya kan akhir pekan? Ya, kali ini bukan hari Sabtu. Sudah dua kali Sabtu selalu ada agenda tersembunyi.



Sabtu pertama arisan keluarga. Aku dan istri di daulat jadi tuan rumah. So pasti, Sabtu jadi agenda beres-beres rumah demi menyambut kedatangan keluarga besar dari pekalongan, comal, cilacap, sampai dari keluarga kalibagor sendiri.

Lalu, Sabtu kedua adalah mudik. Kalibagor menuju Kedungwuluh Kidul, Kecamatan Patikraja. He. Hanya memakan waktu 30 menit. Tapi, sudah hampir tiga bulan aku ndak mudik. Sampe-sampe, ramane nyong, sms ke istri dua hari sebelum hari Sabtu. Hemhh, ini adalah upaya paksa agar saya pulang. Baiklah. Akhirnya, dua hari tanggal merah, kuhabiskan bersama babeh, empat adikku untuk saling bercengkerama. Langsung lanjut ke cerita perjalanan.
Foto ini seharusnya ada di bawah. Saat kami selesai berendam dilanjut makan bersama.
Tapi tanggung, keburu lapar, kami sikat bekal yang sudah dibawa
Rencana ini baru tercetus Minggu malam. Aku mengajak Novi Arifin (lay out radar banyumas) untuk jalan-jalan hari Senin. Namun ditolak. Aku tak tahu alasannya. Tebakanku si karena sering puasa Senin dan Kamis. Jadilah jalan-jalannya di undur Selasa. Aku juga turut mengajak uje (editor Radar Banyumas) dan Amin Wahyudi (mantan wartawan Radar Banyumas).
Pada cerita perjalanan tulisan di bawah ini, maka akan menemui pemandangan ini.
Oke, deal. Selasa kumpul di Prompong, di rumahnya mas Amin. Jam delapan tet.

Seperti biasa, Selasa pagi, aku ke kosnya mas Uje. Aku sengaja ke kosnya karena aku mau mbonceng dirinya. Lalu, sampai di rumah mas Amin, satu temanku pasti terlambat. Namanya Novi Arifin. Ini sudah bolak-balik dinasehatin agar kebiasaan buruk terlambat dibuang. Tapi tetepppppp saja. Semoga besoknya sudah nggak ya pren.

Lalu, saat di rumah Amin, aku pasang status; "hanya sekedar meregangkan kaki, jalan-jalan" langsung hapeku bunyi. Namanya Hamdani (mantan wartawan Radar Banyumas juga). Dia yang lagi kerja menanyakan jalan-jalan kemana. Lalu kuajak sekalian meski aku tahu dia sedang kerja.

"Ya, tunggu sedela, aku langsung cur," kata dia yang belakangan ternyata ijin sama perusahaannya. (semoga si pimpinan perusahaan tidak membaca post blog ini ya).

Oke, akhirnya kami berangkat. (aku, uje, hamdani dan amin). Novi Arifin kuyakin menyusul dengan motornya. Coz dia sudah tahu rutenya; Gua Sarabadak, Pancuran Tujuh, Baturraden, Banyumas.

Oh ya, perjalanan kali ini melalui Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Baturraden. Bukan jalur wisata seperti umumnya. Kali ini lewat jalur tikus. #tapi kami bukan tikus loh ya. Ini memang sudah menjadi jalur terkenal. Tak bosan juga melewati rute ini. Padahal, saya sendiri sudah (mungkin) lebih dari 20 kali.

Asyiknya di perjalanan ini adalah melewati dusun terakhir di Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden yaitu Dusun Kalipagu. Di dusun terakhir ini, masyarakatnya sudah sadar wisata. Untuk masuk pun sudah bayar karena jalan di portal oleh Pokdarwis. Hanya saja, aku berangkat gasik dan masuk gratis karena petugas portal belum datang! 

Setelah berada di basecamp Dusun Kalipagu yang disebut sebagai basecamp "mamake", kami menitip kendaraan. Lalu lanjut jalan. Oh ya, tiba-tiba saja, novi Arifin muncul bak kestaria kesiangan. Dia sudah menyusul dengan cara; OTW yang sangat cepat. Welcome mas. Mari melepaskan kaki bersama.

Pemandangan pertama yang terlihat adalah gorong-gorong pipa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ketenger yang berwarna hijau. Bentuknya kokoh. Panjang. Bulat dan besar. Inilah salah satu sisa pekerjaan teknik di zaman pendudukan lampau yang masih aktif sampai dengan sekarang.
Gorong-Gorong yang merupakan tinggalan kolonial dan masih berfungsi sampai sekarang
Bagi yang datang pertama kali, biasanya takjub! mengesankan! Begini nih yang namanya gorong-gorong pipa buat pembangkit listrik! Jangan lupa dijepret foto-foto, lalu upload.

Selanjutnya, perjalanan datar-datar saja. Memanjang. Namun, suguhan panorama akan sebegitu indah. Hamparan sawah berikut petaninya. Sungai-sungai kecil yang membelah jembatan, sampai pemandangan puncak Gunung Slamet yang sebegitu besar di pulau Jawa ini. Jembatan juga menggunakan konstruksi kolonial yang masih kokoh sampai sekarang.

Tak lupa, perjalanan juga akan banyak melewati gardu pembangkit listrik. Kalau tidak salah ada lima. (Kalau salah, nanti dikoreksi di komentar ya). Kalau tak percaya, ya hitung sendiri pas jalan-jalan.



gardu-gardu menjadi pemandangan unik. dibawha gardu ini, melintang pipa gorong-gorong yang begitu kokoh
Gardu-gardu ini berdiri kokoh diatas timbunan pipa gorong-gorong. Setiap waktu, petugas dari PLTA Ketenger memeriksanya. Bahkan di gardu paling ujung (sebenarnya tidak melewati kalau mau ke Gua Sarabadak, tapi pasti akan mudah dilihat) ada sebuah bak penampung tinggi di atas. Rangkaian baja mirip tower ini sangat kokoh.

Setelah setengah jam di perjalanan memanjang, aku dan kawan-kawan mendapati bendungan raksasa penampung air. Itulah Kolam Tando untuk PLTA Ketenger. Bangunan peninggalan kolonial yang dibentuk mirip lumpang. Berdiameter sangat besar, dengan tepian dinding yang miring. Mirip sekali lumpang. Kedalaman mencapi 6,3 meter. Aku yakin, insinyur-insinyur pembuatnya merancang dengan sangat teliti karena lokasi Kolam Tando ini berada tepat di bawah perbukitan dengan kontur yang masih miring.
Kolam Tando PLTA Ketenger yang dibangun tahun 1938

Kolam ini adalah milik Indonesia Power. Nama resmi instalasi ini adalah Kolam Tando Harian (KTH) PLTA Ketenger. Lalu ada data-data teknis di bawahnya, yaitu Volume Efektif 20.000 m3. Volume KTH 12.800 m3, Luas Permukaan 3.536 m2, Elevasi Tertinggi 658.00 m, Elevasi Terendah 655.00 m, Elevasi Dasar KTH 650.00 m, dan bahwa Kolam Tando PLTA Ketenger ini dibangun pada 1938. Itulah tulisan di Plangnya.

Oke, Aku sebenarnya sudah bercucuran keringat saat sampai di sini. Ada juga Hamdani dan Uje yang kelihatannya ngempos. Sementara dua temanku yang lain, Amin dan Novi malah lari-lari dan senyum-senyum. Keduanya seolah tanpa dosa kecapaian.

Yuk, lanjut. Lepas dari Kolam Tando, perjalanan akan menyusuri irigasi teknis dari sumber-sumber mata air yang mengalir ke kolam tando. Lagi-lagi aku dan kawan-kawan dibuat kagum. Irigasi ini begitu kokoh. Jarang sekali terlihat bebatuan irigasi yang mengelupas. Tidak seperti kolam buatan negeri sendiri (Indonesia) di masa sekarang yang sebentar-sebentar di perbaiki.

Beberapa pemandangan membuat kaki enggan cepat-cepat melangkah di sepanjang area irigasi. Mulai dari jernihnya air yang melimpas dengan sangat cepat. Sampai-banyaknya sumber mata air yang di jaga rapi oleh petugas-petugas PLTA Ketenger. Bahkan, bunga-bunga kecil yang melambai-lambai meminta untuk ditemani.  
Menuju Gua Sarabadak, Pancuran Tujuh. Keindahan alami diantara jaringan irigasi PLTA Ketenger
Sekitar setengah jam kemudian, sampailah aku dan kawan-kawan di pemandangan yang begitu takjub. Dinding belerang yang memiliki tekstur alami berwarna kuning keemasan. Limpasan air hangat yang terus menurun tiada henti hingga bermuara ke sungai alami. Sebuah pohon besar yang menaungi dinding kuning yang biasa disebut sebagai lokasi wisata; Gua Sarabadk, Pancuran Tujuh. Inilah pesona Indonesia yang ada di Baturraden sebagai kawasan destinasi nasional dan internasional yang pengelolaannya masuk di area Perhutani Lokawisata (Palawi) Baturraden.
Ada yang menyebutnya inilah Yelowstone Hotspring. Apalah itu. Yang jelas, lakon orang itu adalah Uje Hartono di depan Gua Sarabadak.

Ya, inilah keajaiban alam yang meski bolak-balik aku datangi tetap membuat mata berdecak kagum. #Ekh, jantung berdecak kagum koh. Selalu saja, senjata kami keluar. Hape dan kamera. Ke sana ke mari dengan berbagai sudut foto. Sampai satu jam lamanya.
aku (kanan, sekaligus pemilik blog) dan Hamdani (pakai kaos kutang..wakak) di depan Gua Sarabadak, Pancuran Tujuh

namanya Novi Arifin. Paling suka dan jago dalam dokumenter foto dan film
Ikuti di Youtube, Facebook, Instagram Novi Arifin
Akhirnya, cukup sudah menikmati sambil foto-foto. Saatnya berendam di Gua Sarabadak. Saatnya menikmati bekal makan di Gua Sarabadak. Saatnya menikmati luluran di Gua Sarabadak. Saatnya melepas penat sambil duduk-duduk di Gua Sarabadak.

Lepaskan Beban di Depan Gua Sarabadak
Sejatinya ingin berenang 


Pecicilan pisan amin bellet
Setengah jam kami berendam. Datanglah dua turis asing. Namanya Sam dan Ale. Keduanya dari Manchester City, England. Yang aku dan kawan-kawan tahu soal Manchester City, adalah klub sepakbolanya. Hanya Itu! Tapi, aku dan kawan terus mencoba mewancarainya. Satu kata yang terucap dari dia adalah : Baturraden is one of the most beautiful place.# kalau salah ya dibenarkan di kolom komentar yak. Tak ada hal seperti ini di Manchester.

Ale (paling kanan), Sam (kedua dari kanan) ceburan bareng di Gua Sarabadak, Pancuran Tujuh, Baturraden
Sam dan Ale sedang holiday satu bulan di Indonesia. Keduanya menunjukan rute holiday. Arived at Jakarta-Baturraden-Wonosobo-Malang-Jawa Timur dan kembali ke Manchester City. Tahun depan, katanya, mau ke Pulau Bali.

Sisi Gua Sarabadak dari tempat duduk bambu yang sudah disediakan para penjaga warung tradisonal di lokasi

melintasi jembatan PLTA Ketenger
Foto bersama berlatar belakang
Gunung Slamet yang tak kelihatan
wakakakaka
Selanjutnya, aku pun mengajak keduanya pulang dengan melewati Dusun Kalipagu. Awalnya, keduanya ingin menuju Curug Belot di Baturraden. Tapi, lebih kusarankan untuk ke Curug Bayan di Kalipagu saja. Oke, deal.

Mereka percaya. Kami pun mengajak jalan-jalan. Di sepanjang perjalanan, foto-foto menjadi poin penting. Mereka juga berdecak kagum atas besar Gunung Slamet yang kemudian menjadi latar foto mereka berdua. Pret Jepret.

Saat sampai di Curug Bayan, Sam langsung menuju ke bawah air terjun. Waktu itu, sudah kuingatkan agar tidak berenang. Keduanya pun hanya di pinggir.


"Amazing, powerfull (keduanya menyebut aliran airnya),"

After that, kami pun mengantarnya ke hotel di bawah lokawisata Baturraden. Thank for coming to Indonesia! Nice to meet you.

so, this is the video



Biodata Penulis :
Nama     : Tangkas Pamuji
Alamat   : Desa Kalibagor, RT 2 RW 1, Kecamatan Kalibagor
                 Kabupaten Banyumas
                 Provinsi Jawa Tengah
Contact  : hp - 085647732345
                email - tangkaspamuji@yahoo.co.id/tangkaspamuji@gmail.com         
                facebook - tatang bae lah
                twitter - tatang bae lah
                blog - serpihan catatan di tangkaspamujiecotourism.blogspot.com
                path - tatang bae lah 
Work      : Redaktur di Harian Pagi Radar Banyumas
                Jalan Soepardjo Rustam, no 88 Sokaraja Kulon, Sokaraja, Banyumas.
rekening : BNI - 0350746628 - an tangkaspamuji
     
    Oke, jika ingin berlibur ke lokasi ini, kami siap untuk mengantar. Contact us if you need tour guide (amin wahyudi - 085726323118/ tangkas pamuji - 085647732345). Cekidot the picture.

Comments

Popular Posts