Desa Adat, Bukan Semata Pelestarian Ritual

Indang Merasuk ke Tubuh Penari Ebeg




Para Penari Ebeg Group Kesenian Sekar Wisma , Dusun Karangbanar, Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah kerasukan Indang (sejenis hal gaib menyerupai jin). Mereka tidak sadar atas apa yang sedang terjadi. dalam penampilan ini, para penari ebeg biasanya makan kaca beling, menghirup asap kuncup pelapah pohon kelapa, makan bunga kantil dan meminum pewangian. (foto : Tangkas Pamuji/Plinteng Photo)

Penari Mejeng :Para penari ebeg juga bisa bergaya. Sambil melenggak-lenggok pakai kacamata, khasanah warisan budaya ini sudah menjadi bagian dari salah satu kesenian yang masuk Program Pelestarian Desa Adat dan Istiadat Budaya Nusantara 2011 dari Kemendagri yang di Launching, Sabtu (29/10/2011) di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. (foto : Tangkas Pamuji/Plinteng Photo)

Slompret yang lagi ditiupo Kuswandi ini merupakan hasil kerjainan tangan para seniman ebeg dari Desa Kalisalak. berbagai ritual dalam kesenian ebeg, berikut pengiring musik yang masih tradisional menjadikan suara sinden makin mistis didengar. (foto : Tangkas Pamuji/Plinteng Photo)

Masuk Halaman 1 koran Radar Banyumas (Jawa Pos Group)
Launching Pilot Project Desa Adat Istiadat dan Budaya Nasional 2011

SLOMPRET, semacam suling jawa dari bambu wulung Banyumas sedang ditiup Kuswandi (40) di arena pementasan Taman Rekreasi Andhang Pangrenan (TRAP) Purwakerta, Jumat (28/10) siang kemarin. Ketukan laras dari bebunyian sampur, saron, semakin menderit mengiri suara Slompret. Beriringan dengan suara alat musik tradisional tersebut, Laras Gong Bumbung yang ditabuh Mikun (35) juga membahana. Ditambah lagi, tembangan dari salah seorang sinden dalam Group Kuda Kepang Sekar Wisma asal Desa Kalisalak makin mistis didengar.
    Tiba-tiba saja, 11 penari ebeg (kuda kepang, red) Group Sekar Wisma dari Dusun Karangbanar, Desa Kalisalak RT 3/12 saling berjatuhan. Tangan mereka mengepal kuat. Kakinya bersikap kuda-kuda. Mereka nampak ingin bertarung. Matanya selalu mengarah ke atas sekaligus melirik ke kiri kanan. Para penari itu terdiri atas anggota, Pentul pemakai topeng Ketekan, dan dua penari Barongan.  
    Penari ebeg itu langsung menyeruduk Tetua Group Kuda Kepang Sekar Wisma yang sedang berdiri di depan arena pementasan di halaman tengah Taman Andhang Pangrenan. Hanya dalam hitungan detik, semua penari takluk oleh Tetua. Rupanya, Mihadi (52), Sang Tetua paham betul bahwa para penari menginginkan asap putih dari kuncup pelepah muda yang dibakar. Masing-masing penari menghirup asap dalam-dalam secara bergantian.     
    Disamping berjatuhan, ada juga penari ebeg yang meminta makan sekepal bunga kantil. Meminum pewangi dari gelas kaca kecil. Ditambah yang menginginkan sebuah kuda tiruan dari anyaman bambu berbulu ijuk sapu hitam. Setelah semua keinginan diikuti, para penari ebeg langsung berjalan ke tengah arena pementasan. Mereka menari, berlenggok tubuhnya sambil menghentakan kakinya. Hentakan kaki dari sang para penari pun mengikuti irama alat musik tradisonal dari suara sang sinden.
    Mihadi mengatakan, saat berjatuhan, penari sedang kerasukan indang. Indang, kata Mihadi, adalah hal gaib yang merasuk dalam tubuh penari. Indang bermacam jenisnya. Ada Indang Ketekan (Monyet), Macanan (Macan), Angin, sampai Indang batu. Seni ebeg yang dijalaninya berdiri sejak 5 Juli 1966. Pementasan dilakoni mulai Desa, Kecamatan, hingga Kabupaten. Mereka selalu berputar dan mencari satu daerah ke derah lain.
    Bagi Mihadi, itulah satu warisan adat isitadat dan budaya dari nenek moyang Dusun Karangbanar, Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas. Mihadi sendiri, telah berumur 52 tahun. "Kami akan terus pertahankan tradisi ebeg ini," katanya.
    Kepala Desa Kalisalak Bambang Setiadi mengungkapkan, Desa Kalisalak masuk sebagai salah satu Desa Adat di Indonesia. Adanya Pilot Project Pelestarian Desa Adat Istiadat dan Budaya dari Dirjen Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kementrian Dalam Negeri menjadi tombak berdirinya pelestarian lembaga adat.
    "Sekarang, kami masuk dalam penguatan kelembagaan. Dan, kami akan terus nguri budaya. Besok Kami (Desa Kalisalak, red) jadi salah satu lokasi yang ditinjau dari Kemendagri. Lagi-lagi, seni kami akan tampil. Dan, ini mengungkap bahwa Desa Adat bukan hanya soal ritual. Tapi pengembangan potensi. Baik kesejahteraan, ekonomi, maupun wisata budaya," ujar Bambang.
    Pelestarian Desa Adat juga tidak melulu soal ritual. Kalau mau ritual, katanya Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Sekar Wigati Desa Gerduren Bambang Suharsono, sudah dilakukan di masing-masing daerah. Yang berbeda di Pilot Project Pelestarian Desa Adat Istiadat Budaya ini adalah kerukunan.
    Dia membuktikan salah satu agenda penyusunan sejarah desa sesuai permintaan Dirjen PMD Kemendagri. Dari sini, semua masyarakat sudah tahu tentang Adat Lengger di Gerduren, dan kapan berdirinya Desa Gerduren. Bahwa Pilot Project Desa Adat ini bisa mendapatkan generasi masa depan penari Lengger khas Gerduren.
    "Kami sudah masuk ke sekolah dengan menjadikan latihan tari Lengger sebagai mulok. Sudah satu SD yang bergerak dan menjalaninya," ungkap Bambang Suharsono.
    Ketua Pokmas Pasir Luhur, Desa Pasir Wetan, Kecamatan Karanglewas, Agus menuturkan, bahwa penguatan kelembagaan dan ekonomi telah dibinanya. Sebagi bukti, pandai besi yang menjadi Ikon Desa Adat Pasir Wetan telah menghasilkan sentra peralatan pertanian dan alat bangunan canggih.
    "Kedepannya, kelembagaan dan pengembangan khas Adat Pandai Besi menjadi dominasi produksi," ujarnya.
    Kepala Desa Cikakak, Kecamatan Wangon Suyitno mengemukakan, kerukunan dan kebersahajaan Kelompok Masyarakat Saka Tunggal terjadi saat tradisi Jaroan. Melalui kebiasaan turun temurun, tanpa dikomando, masyarakat akan memperbaiki jaro dari pagar keliling Masjid Saka Tunggal. "Kegotongroyongan kami menjadi sesuatu yang akan terus dipertahankan," ungkap dia.
    Terakhir, Kades Pekuncen Kecamatan Jatilawang Suwarno mengungkapkan, Trah Kyai Bonokeling menjadikan perbedaan ekonomi dan segalanya hilang. Mereka selalu merasa satu saudara ketika berbicara Bonokeling.
    "Bahwa mereka semua kerabat Bonokeling itu iya. Mereka selalu bahu membahu melaksanakan ritual dan melestarikan tradisi. Di balik ini, mereka adalah satu komunitas yang sangat mencirikan orang Indonesia. yaitu ramah," katanya. (Tangkas Pamuji)

Komentar