Cak Nun dan Banyumas Extravaganza

Bawor perempuan yang tampil di Banyumas Extravaganza 

    Tak terbersit sama sekali dipikiran saya akan kondisi Kabupaten Banyumas 433 tahun lalu.
  
    Bahkan, meski menghela napas panjang untuk membayangkan (sesaat) bagaimana wujud Banyumas 433 lalu, saya pun lagi-lagi gagal dan tak mendapatkan gambaran apapun tentang kondisi Banyumas masa lampau.

    Sangat susah!


    Tak ada bayangan yang terpancar sama sekali bagaimana kondisi Alun-alun Purwokerto, keadaan Jalan Jenderal Soedirman yang kini penuh sesak dengan kendaraan dan gedung pencakar langit, komplek Kawedanan Banyumas yang kini memiliki Masjid Nur Sulaiman sebagai benda cagar budayanya.

    Bahkan, membayangkan komplek Pasar Ajibarang yang maha luas dimana sekarang menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah terbesar diantara pasar-pasar di Kabupaten Banyumas.
  
    Apalagi, membayangkan keadaan pinggiran Kabupaten Banyumas yang pada masa hidup saya sekarang sudah disebut sebagai wilayah dengan Kecamatan bernama Lumbir, Kecamatan Tambak, hingga Kecamatan Baturraden yang kesohor hingga antero jagat internasional.

    Akhh, itukan salahmu. Mau-maunya mikir bagaimana kondisi Banyumas di zaman kuno. Zaman 433 tahun lalu. Wkkk

    Tapi, percayalah, dengan sedikit mengetahui sejarah Banyumas, maka bisa membuka tabir bahwa perkembangan zaman terus terjadi. Tak ada yang mampu menghentikan. Orang sakti sekalipun tak bisa membikin macet cepatnya perkembangan zaman.

    Termasuk saya yang sama sekali tidak sakti mandraguna dan masih sempat-sempatnya menulis tulisan ini. Hehe..
  
    Jangan-jangan, saat ini saya kebawa arus perkembangan zaman. Setiap detik waktu yang begitu berharga terbuang begitu saja. Saya yang tak bisa memutar waktu untuk bisa melaju ke dunia sebelumnya hanya menghamburkan waktu di zaman sekarang ini.
  
    Perkembangan zaman memiliki subyek utama waktu. Waktu yang nyata-nyatanya bisa bikin desperate orang. Atau juga, bisa bikin happy seluruh mahluk di bumi ini.

    Saya bisa mabuk (waktu) kala asyik bersama dengan kawan-kawan saat berada di pinggir air terjun, pinggir hutan, puncak gunung. Pokoknya, saat bersama kawan-kawan, deretan angka dalam lingkaran waktu begitu cepat berlalu. Sampai-sampai, isteri saya sering mungkek (be-te) gara-gara saya lupa waktu.

    Pernah, suatu saat, saya pergi berwisata dengan teman-teman ke Pulau Nusakambangan pada hari Sabtu. Sampai rumah pukul 19.00. Gawat. Estimasiku melenceng. Yang kuperkirakan bisa sampai rumah pukul 16.00, nyatanya molor hingga tiga jam. Padahal, di rentang waktu tiga jam itu saya menganggap sebagai familly time.

    Saya gelagepan menghadapi istri yang diam saja sejak saya pulang. Bahkan, hingga pukul 21.00. Beruntung, waktu yang tegang itu, nasi di rumah habis. Akhirnya, saya putuskan beli nasi goreng. Tentu untuk membikin adem suasana hatinya (istilah kerennya menyuap).

    Cling. Beres. Apalagi istriku sedang kelaparan. Wwkwkwkwk.. Senyum pun mengembang. Tapi ya, masih sedikit ngomel-ngomel. 

istri pemilik blog ini Anggit Fitriani (baju hijau) dan anak pemilik blog ini Aqilla Firsta Raisa (baju pink)

    Oh ya, ihwal mungkeknya istriku itu karena aku dan istri punya perjanjian yang tak tertulis maupun tak terucap, bahwa tiap hari Sabtu saya diberi kebabasan berwisata asal tahu waktu dan bisa pulang sebelum maksimal pukul 16.00.

    Cukup-cukup, malah rumpi rumah tangga ini. wkwkwk..

    Ngomongin soal waktu, sekarang, saya sedang mencoba memahami waktu. Memahami secara pelan-pelan.

    Begini-begini, beberapa tahun lalu, saya punya keinginan untuk bisa menahan lapar. Sejak kecil, memang keluargaku membiasakan diri menahan lapar. Ibuku (almarhum) dan bapakku memang mengajari dan nglakoni. Tapi aku tidak. Hehe..

    Sekarang, saya sedikit demi sedikit belajar memahaminya.  Ini tak lain karena aku sering mendengarkan lagunya Cak Nun. Betapa waktu di sepertiga malam itu begitu luar biasa. Begitu waktu sepertiga malam itu benar-benar bisa membuat diri dekat dengan Tuhanmu.

    Terimakasih Tuhan atas penyampaian yang kau berikan pada Cak Nun lewat karya lagunya. Maka, kupenggal saja lagu itu dan ku Copy paste di sini.

     Tombo Ati -  Emha Ainun Nadjin (Salah satu lagu di Kado Muhammad)

    Kepada engkau yang menyimpan kesengsaraan dalam kebisuan, kepada engkau yang menangis dalam batin karena dikalahkan disingkirkan diusir ditinggalkan, atau sangat sangat susah ketemu yang namanya keadilan;

    Aku ingin bertamu ke lubuk hatimu saudara-saudaraku untuk mengajakmu istirah sejenak, mengendapkan hati dan bernyanyi, mengendapkan hati dan bernyanyi;

    Saudara-saudaraku sesama orang kecil di pinggir jalan, sedulur-sedulurku di dusun-dusun, kampung-kampung perkotaan, karib-karibku di gang-gang kotor, di gubuk-gubuk tepi sungai yang darurat, atau mungkin saudara-saudaraku di rumah-rumah besar dikantor mewah namun memendam kepedihan diam-diam;

    Aku ajak engkau semua sahabat-sahabat saudaraku untuk menarik nafas sejenak, duduk bersandar atau membaringkan badan,

    Kuajak engkau menjernihkan pikiran, untuk menata hati menemukan kesalahan-kesalahan kita semua untuk tidak kita ulangi lagi, atau meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk kita perjuangkan kembali.

    Ayolah saudara-saudaraku, rileks!

    Tombo ati iku ono limang perkoro, Kaping pisan moco Qur’an sakmaknane, Kaping pindo Sholat wengi lakonono, Kaping telu wong kang sholeh kumpulono, Kaping papat weteng iro engkang luwe, Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe, Salah sakwijine sopo biso ngelakoni, Insya Allah Gusti Pangeran ngijabahi”


    Semoga, yang membaca ini juga di ijabahi sama Gusti Pangeran nggih.   

    Oke, sampai dengan tulisan di pragaraph ini, aku pun belum bisa membayangkan bagaimana kondisi Banyumas zaman lampau. Rentang waktu selama 433 tahun sejak 1582 hingga 2015 membuatku buyar. Bayanganku, hanya mengatakan, Banyumas berdiri sebelum Belanda datang ke Indonesia. Cukup. Itu saja.

    Tapi, saat edisi peringatan hari jadi Banyumas dengan balutan penyelenggaraan Banyumas Extravaganza pada 19 April 2015 kemarin, saya terbuai ke zaman lampau. Terbuai ke pikiran apakah itu zaman Banyumas 433 tahun lalu, atau zaman Banyumas yang baru-baru kemarin.

salah satu atraksi kesenian di Banyumas Extravaganza

    Yang jelas beragam kesenian epik yang ditampilkan dalam Banyumas Extravaganza membuat saya memiliki waktu keluarga yang super menyenangkan. Kata orang, saya baru mendapatkan quality time. Saya memang menonton dengan anakku Aqilla Firsta Raisa Pamuji, dan istriku Anggit Fitriani.

    Begitu sampai di rumah, usai nonton Banyumas Extravaganza, istriku pun berucap.

    "Terimakasih ayah, sudah menyenangkan kami (istriku dan Raisa) karena nonton bareng," sebut istriku yang sudah bener-benar lupa akan mungkeknya dulu.

    Sekarang, ketika istriku sudah selesai mungkek. Maka saya kembali merencanakan wisata sendiri di tiap hari Sabtu. Come on guys. Temani aku. wkwkwk..

hehe.. aku motret mereka ini

pakeong, seni meminta hujan

baluran batik dalam busana



Komentar